Teknik Budidaya Lele di Kolam Terpal

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tabanan melakukan kunjungan di lokasi budidaya lele kolam terpal di Pokdakan Mina Sesandan Lestari, Desa Sesandan, Tabanan


Budidaya ikan lele (Clarias gariepinus) tidak harus dilakukan di kolam berupa bak tembok atau di kolam tanah yang luas. Di Tabanan kolam lele saat ini ternyata lebih banyak yang dibudidayakan di kolam yang dindingnya terbuat dari terpal plastik.

Meski kolam terpal ukuran luasnya relatif kecil, ternyata tidak kalah dengan hasil budidaya lele di kolam tanah atau kolam tembok. Bagi yang berminat, berikut ini tekniknya.

Budidaya lele di kolam terpal memang bisa menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat yang ingin mengembangkan lele, namun tidak memiliki lahan kolam yang ideal. Hal ini bisa dimaklumi, karena kolam terpal bisa dibangun di sembarang tempat. Baik di pekarangan rumah, kebun maupun sawah tadah hujan.

Kolam Terpal

Kolam terpal bisa dibedakan menjadi tiga model, yaitu: a) kolam terpal di atas permukaan tanah; b) kolam terpal di bawah permukaan tanah; dan c) kolam beton / tanah berlapis terpal. Masing-masing memiliki teknik pembuatan dan konstruksi kolam yang berbeda.

Di Kabupaten Tabanan yang banyak digemari adalah budidaya lele di kolam terpal yang dibangun di atas tanah.  Cara pembuatan kolam terpal di atas permukaan tanah juga cukup mudah. Usahakan lokasinya tidak jauh dari sumber air, sehingga tidak memerlukan selang air terlalu panjang.

Bersihkan lahan dari gulma, seperti rumput liar dan alang-alang, serta pepohonan yang terlalu rimbun agar kolam dapat memperoleh sinar matahari secara langsung. Bentuk kolam yang diterapkan kolam bebentuk bundar yang rangkanya terbuat dari besi beton. Boleh juga kolam berbentuk kotak persegi panjang dengan rangka dari bambu, kayu atau papan.

Bila kolam terpal sudah tersedia, langkah berikutnya  masukkan air secara pelan-pelan ke dalam kolam sampai kedalamannya mencapai 30 – 40 cm. Pastikan tidak ada kebocoran pada terpal, sehingga volume genangan air tetap utuh. Kalau ada terpal yang sobek atau bocor, segera lakukan penambalan.

Berikutnya, air bisa dipupuk menggunakan pupuk kandang yang dibungkus dengan kampil. Masukkan pupuk kandang ini cukup selama sehari semalam saja. Setelah air kelihatan kecoklatan, pupuk diangkat. Air kemudian ditreatment dengan probiotik (Planktop, EM4 dsb) agar plankton tumbuh secara optimal. Selesai diprobiotik air dibiarkan selama seminggu. Setelah itu, kolam terpal siap digunakan untukmembesarkan lele.

Teknik budidaya

Benih ikan lele yang ditebarkan sebaiknya yang berukuran cukup besar, yakni ukuran 5 – 8 Cm. Padat penebarannya 150 – 200 ekor/M2. Agar tidak stress, benih lele perlu diaklimatisasi dulu dengan cara merendam bungkus plastik di dalam air kolam beberapa menit kemudian plastik dibuka sehingga benih keluar dengan sendirinya.

Untuk mengurangi stress, setelah penebaran benih ke dalam kolam dapat disiramkan larutan garam dapur krosok sebagai disinfektan . Dosis garam dapur cukup 300 gr/M3 air kolam.

Pada minggu I – III pakan yang diberikan berupa butiran yang berukuran kecil.. Berikutnya secara bertahap  diganti dengan butiran yang berukuran lebih besar. Pakan diberikan tiga kali sehari pagi, siang dan sore menjelang petang. Pakan diberikan sedikit demi sedikit sampai semua pakan yang diberikan habis tidak bersisa.

Sesuai pertumbuhan ikan, ketinggian air di kolam juga perlu dinaikkan secara bertahap. Sebulan setelah penebaran benih, air dinaikkan sampai ketinggian 50 Cm. Berikutnya setiap dua minggu air kembali dinaikkan 10 Cm hingga ketinggian optimal 70 – 80 Cm sampai panen.

Teknik budidaya lele di kolam terpal sebenarnya tidak jauh berbeda dengan teknik budidaya lele di kolam tanah atau bak tembok seperti yang sudah biasa diterapkan pembudiaya ikan di Tabanan selama ini. Yang membedakan, adalah masalah pengaturan air karena pada budidaya lele di kolam terpal ini umumnya dilakukan di daerah yang sulit air.

Bila pada budiaya lele di kolam tanah pada umumnya pengairannya ke kolam lancar, pada budidaya lele di kolam terpal ini biasanya air  tergenang. Pengisian air hanya dilakukan sesekali untuk mengganti penguapan atau rembesan. Air kolam yang meluap akibat hujan, perlu disedot atau dikuras hingga pada ketinggian semula.

Mengingat penggantian air yang minim, maka ketika benih sudah ditebarkan atau setelah dua bulan pemeliharaan, perlu dilakukan penggunaan probiotik pengurai  secara berkala dua minggu sekali agar kualitas air bisa tetap terjaga. Hal ini perlu dipahami karena penggunaan probiotik selain bisa menguraikan zat-zat beracun akibat sisa pakan dan kotoran lele, juga bisa mengurangi kepadatan plankton dan menghambat pertumbuhan microba pathogen.

Namun bila sumber air tersedia setiap saat, penggantian air bisa dilakukan setiap pagi atau sore hari. Boleh juga dilakukan sewaktu-waktu bila kualitas air di wadah budidaya sudah mengalami penurunan yang ditandai dengan air yang mulai berbau tidak sedap.

Dengan pemeliharan yang cukup sederhana,  bila tidak ada aral melintang, lele bisa dipanen setelah tiga bulan pemeliharaan, ikan lele yang semula bobotnya rata-rata 10 – 18 gram sudah menjadi 150 – 180 gram  sehingga sudah layak untuk dipanen.

Pemanenan  lele di kolam terpal dilakukan dengan cara mengeringkan / menyedot air kolam menggunakan slang hingga ketinggian air sekitar 20 Cm. Berikutnya, lele diserok dan ditampung dalam wadah penampungan untuk dijual. ( Agus Rochdianto,  Penyuluh Perikanan Madya di Dinas Perikanan Tabanan)