Budidaya Ikan Kakap Putih di Sawah Sistim Minakoda  

Penebaran benih kakap putih di wadah budidaya perlu dilakukan secara hati-hati melalui proses aklimatisasi.


Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer) dikenal juga dengan nama Barramundi. Ikan dari keluarga Latidae yang biasa hidup di air payau dan laut ini, ternyata bisa dibudidayakan di sawah yang berair tawar dengan hasil memuaskan.

Hal itu sudah dibuktikan  dari penelitian dan kaji terap lapangan yang dilakukan Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBL-PP) Gondol yang saat ini tengah melakukan program percontohan penyuluhan  budidaya padi dan kakap putih (Patih) di sawah sistem minapadi kolam dalam (Minakoda) di Tabanan.

Bagi yang tertarik dan ingin mencoba budidaya ikan Kakap putih di sawah sistem minakoda (Patih Salibu – Padi Kakap Putih Salin Satu Ibu) seperti yang dilakukan di Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Tirta Pertiwi di Desa Gunung Salak, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, berikut ini tekniknya.

Persiapan Lahan

Sawah yang digunakan disesuaikan dengan ketersediaan lahan. Pada percontohan di Tabanan, lahan sawah yang digunakan berukuran 10 x 20 M2 dengan ketinggian air untuk media budidaya 80-100 cm mengelilingi pinggiran sawah 30 persen dari luas total lahan. Setelah Persiapan lahan selesai, dilakukan pengisian air dan pemasangan tali nilon sebagai penghalang hama burung agar tidak memangsa ikan yang dipelihara.

Sebelum  benih kakap ditebar,  benih perlu diadaptasikan dari salinitas air laut menjadi air tawar. Kakap merupakan ikan euryhalien yaitu ikan yang memiliki rentang salinitas luas. Adaptasi atau proses aklimatisasi dilakukan selama sekitar 24 jam secara perlahan dari salinitas air hatchery (asal benih) yang biasanya sekitar 28 – 30 promil diturunkan menjadi salinitas 0 promil.

Pada percontohan di Tabanan, jenis padi yang ditanam adalah ciherang yang memiliki produktifitas 30 kg/100m2. Padi ini memiliki kemampuan untuk tumbuh kembali setelah dipanen (Salin Satu Ibu)  sehingga cukup sekali tanam padi untuk dipanen sekitar 3 – 5 kali.

Selanjutnya dilakukan penebaran benih berukuran 12 cm dengan kepadatan 2-4 ekor/m2. Benih ikan kakap yang digunakan idealnya memiliki kualitas yang baik karena kualitas benih sangat menentukan keberhasilan budidaya.

 

Teknik Pemeliharaan

Pemeliharaan ikan kakap putih di sawah sistem minakoda sebenarnya lebih sederhana dari pada budidaya kakap di karamba jaring apung. Namun karena proses grading pada pemeliharaan tidak bisa sesering seperti yang dilakukan di karamba maka disarankan menebarkan  benih yang cukup besar di atas 10 Cm.

Penggunaan benih yang ukurannya lebih kecil dari 10 cm untuk kegiatan pembesaran sampai ukuran konsumi akan menyulitkan karena membutuhkan grading lebih sering mengingat ukuran lahan luas dan air tidak sejernih air laut.

Pemeliharaan kakap putih hingga 300 gram per ekor membutuhkan waktu sekitar 5 bulan dan untuk mencapai ukuran 500 gram dibutuhkan waktu 7 8 bulan.

Pemberian pakan dilakukan setiap hari dengan dosis 3 persen dari berat badan ikan. Salah satu keuntungan dalam sistim budidaya kakap di sawah sistem minakoda ini adalah pemanfaatan pakan alami sebagai sumber pakan dapat menurunkan konversi pakan (FCR).

Selain itu alternatif polikulur dengan ikan nila dapat mengurangi dengan signifikan booming plankton dan macroalgae. Jika ditemukan ada ikan yang luka di lakukan treatment menggunakan antiseptic.

Pemeliharaan juga merupakan faktor penting dalam proses budidaya khususnya pembesaran. Pemeliharaan mencapai ukuran konsumsi memerlukan waktu yang lama, sehingga diperlukan manajemen baik pakan dan kualitas perairan yang baik.

Pemberian pakan berlebih selain meningkatkan biaya operasional juga dapat merusak perairan karena tumpukan materi organik yang akan menyebabkan munculnya ammonia dan nitrit tinggi yang berimbas pada penurunan kesehatan ikan. Oleh karena itu managemen pakan dan kualitas air harus dilakukan dengan baik untuk mendapatkan ikan berkualitas dan tingkat kehidupan yang tinggi.

Berdasarkan hasil kaji terap yang pernah dilakukan di Tabanan, disimpulkan teknologi pembesaran kakap putih sangat sederhana dan mudah dilakukan oleh pembudidaya ikan. Pembesaran kakap putih juga tergolong efisien, ekonomis dan layaj dikembangkan karena dapat diterapkan pada skala kecil hingga besar. (Agus Rochdianto, Penyuluh Perikanan Madya di  Dinas Perikanan Tabanan)