Budidaya Ikan Sistem Yumina Bumina

Budidaya ikan lele sistem Yumina (Tumpangsari sayur dan mina/ikan) di Pokdakan Mina Sesandan Lestari, Desa Sesandan, Tabanan


Budidaya ikan sistem Yumina-Bumina merupakan teknologi budidaya ikan ramah lingkungan yang berbasis pada ketahanan pangan. Secara sederhana, Yumina-Bumina merupakan singkatan atau istilah populer untuk kegiatan budidaya yang memadukan antara sayuran dengan ikan (Yumina: Yu = sayuran, mina = ikan) dan buah dengan ikan (Bumina: bu = buah; mina = ikan).

Dalam budidaya ikan sistem yumina, sayuran yang dibudidayakan adalah tanaman yang menghasilkan batang dan/atau daun yang dapat dijadikan sayur. Di antaranya adalah kangkung, pakcoi, slada, kailan dan lain-lain. Sedangkan buah dalam sistem Bumina yang dibudidayakan adalah jenis tanaman semusim yang dapat menghasilkan buah. Di antaranya adalah  cabe, tomat, terong, dan lain-lain.

Budidaya Yumina-Bumina merupakan pengembangan dari teknologi Akuaponik yaitu suatu sistem budidaya yang mengusung prinsip hemat lahan dan air dengan memadukan antara budidaya ikan (Akuakultur) dan budidaya tanaman tanpa tanah (Hidroponik).

Dibanding budidaya ikan sistem konvesional, budidaya ikan sitem yumina bumina (aquaponik) memiliki beberapa keuntungan. Di antaranya pemanfaatan lahan pekarangan yang sempit. Selain itu, dalam satu lahan yang sama bisa menghasilkan dua jenis komoditas yaitu sayuran dan ikan

Pemilihan komoditas.

Memilih komoditas baik jenis sayuran maupun ikan dalam sistem budidaya ini memiliki peranan penting, selain harus cocok dengan suhu tempat budidaya juga harus bisa memenuhi keinginan pasar.

Sayuran daun hijau yang paling baik tumbuh dalam subsistem hidroponik adalah petsai, selada, kangkung, seledri.  Sedangkan jenis ikan air tawar yang paling umum digunakan dalam sistem aquaponik dan paling popular untuk aquaponik skala rumah tangga maupun komersial adalah lele dan nila. Meski demikian, jenis ikan lainnya juga tetap bisa dikembangkan dalam budidaya sistem yumina-busmina ini.

Cara Budidaya

Budidaya ikan sistem yumina busmina caranya cukup mudah. Kolam sebagai wadah budidaya bisa menggunakan bak tembok, fiberglass atau kolam terpal. Di atas kolam atau sekeliling kolam, kemudian diberi rangkaian pot untuk menanam sayuran.

Pot tersebut bisa diletakkan dalam sebuah talang atau pipa paralon yang diberi lubang seukuran pot. Agar air kolam bisa mengalir ke dalam talang atau pipa paralon tempat menanam sayur ini, maka diperlukan pompa air untuk mengangkat air dari kolam. Air kolam yang mengairi tanaman ini, selanjutnya jatuh kembali ke dalam kolam.

Bila kolam sudah siap dan terisi air, selanjuutnya benih ikan lele (nila) ukuran 5 – 8 Cm bisa ditebarkan dengan padat tebar berkisar 50 – 100 ekor/M3 air. Perawatan berikutnya, cukup dengan cara memberi makan ikan serta menjaga agar air tetap mengalir menyirami sayuran di atas kolam yang ditanam.

Budidaya ikan sistem yumina busmina tidak perlu menggunakan pupuk dan pestisida. Juga tidak perlu untuk menyiram sayuran setiap hari. Kita hanya memberi makan kepada ikan secara berkala sehari 2-3 kali saja. Namun hasilnya kita bisa memanen ikan dan sayuran (atau buah) ( menghasilkan dua produk dalam satu unit produksi).

Panen ikan dan sayuran bisa dilakukan secara selektif dan total. Hasil panen tanaman sayuran dari sistem budidaya ini bisa dilakukan secara selektif atau panen total. Biasanya untuk komoditas sayuran dipanen secara selektif. Sedangkan ikannya dipanen secara total setel;ah beberapa bulan dan mencapai ukuran konsumsi. ( Agus Rochdianto,  Penyuluh Perikanan Madya di  Dinas Perikanan Tabanan)