Kiat Menekan Kematian Benih Lele

Memilih benih berkualitas salah satu cara menekan mortalitas di awal penebaran


Benih ikan lele (Clarius gariepinus) banyak yang mati di awal penebaran merupakan salah satu momok menakutkan di kalangan pembudidaya ikan tingkat pemula. Sering terjadi, usaha budidaya lele langsung kendor setelah melihat benih ikan lele yang baru saja ditebarkan, beberapa hari kemudian banyak yang mati. Bahkan tingkat kematiannya ada yang mencapai 100 persen.

Kejadian tersebut sering dialami oleh pembudidaya ikan  pemula atau warga masyarakat yang baru  menekuni usaha budidaya lele di kolam  tembok atau terpal. Gara-gara benih lelenya banyak yang mati, membuat mereka kapok enggan memelihara lele lagi.

Untuk mencegah dan mengatasi tingginya kematian (mortalitas) benih lele pada awal masa pemeliharaan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Selain benih lelenya dipilih yang berkualitas, wadah  budidaya dan media air kolam juga perlu dipersiapkan dengan baik.  Bagaimana kiatnya?

Sebelum benih lele ditebarkan, masukkan air secara pelan-elan ke dalam kolam sampai kedalamannya mencapai 30 – 40 cm. Pastikan tidak ada kebocoran pada dinding atau terpalnya, sehingga volume genangan air tetap utuh.  Berikutnya, air  kolam dipupuk menggunakan pupuk kandang yang dibungkus dengan kampil. Dosis pupuk cukup 1 kantong kampil cukup untuk 2-3 M2. Masukkan pupuk kandang ini cukup selama 1-2 hari  saja. Setelah air kelihatan kecoklatan, pupuk diangkat.

Tiga hari kemudian, air  ditreatment dengan probiotik. Probiotik ini bisa diproduksi sendiri atau dibeli bebas di pasaran. Dosis probiotik 100 ml/M3 air kolam.  Sebelum disebar, probiotik dicampur dalam 2 – 3 liter air, setelah diaduk langsung disebar ke kolam. Tiga hari kemudian, air kolam biasanya sudah dipenuhi jentik nyamuk. Hal ini menjadi pertanda bila plankton di kolam sudah  berkembang. Pada saat seperti ini, benih lele sudah bisa ditebarkan.

Benih ikan lele yang ditebarkan sebaiknya yang berukuran cukup besar, yakni ukuran 5 – 8 Cm. Bagi pemula disarankan minimal ukuran panjang benih 8 Cm.  Padat penebarannya  cukup 150 – 300 ekor/M3. Agar tidak stress, benih lele perlu diaklimatisasi dulu dengan cara merendam bungkus plastik (jerigen) wadah benih di dalam air kolam beberapa menit kemudian plastik /jerigen dibuka sehingga benih keluar dengan sendirinya.

Untuk mengurangi stress, setelah penebaran benih ke dalam kolam dapat disiramkan  air  hasil perasan dedak fermentasi dengan dosis 100 ml/M3 air. Pada hari kedua, dedak halus yang sudah difermentasi bisa diberikan sebagai pakan awal sekaligus untuk meningkatkan stamina benih lele.

Pemberian pakan selanjutnya, pada minggu I – III  pakan yang diberikan berupa butiran yang berukuran kecil. Berikutnya secara bertahap  diganti dengan butiran yang berukuran lebih besar.  Pakan diberikan tiga kali sehari pagi, siang dan sore menjelang petang. Pakan diberikan sedikit demi sedikit sampai semua pakan yang diberikan habis tidak bersisa.

Sesuai pertumbuhan ikan, ketinggian air di kolam juga perlu dinaikkan secara bertahap. Sebulan setelah penebaran benih, air dinaikkan sampai ketinggian 50 Cm. Berikutnya setiap dua minggu air kembali dinaikkan 10 Cm hingga ketinggian optimal 70 – 80 Cm sampai panen. Selain pengaturan air, setiap 3 – 7 hari sekali air perlu diberi probiotik dosis 100 ml/M3 air.

Melalui pemberian probiotik secara berkala tersebut, diharapkan kualitas air kolam selalu terjaga dan tidak berbau sehingga lele bisa tumbuh optimal. Air kolam yang berbau merupakan tanda adanya  penurunan kualitas air. Terkait hal itu, pada budidaya lele di kolam tembok atau  terpal menjaga kualitas air merupakan salah faktor yang perlu mendapat perhatian khusus. (Agus Rochdianto, Penyuluh Perikanan Madya di  Dinas Perikanan Tabanan)