Teknik Budidaya Lele Sistem Biofloc

Budidaya Lele sistem Bioflok di Pokdakan Banyu Pinaruh, Desa Rejasa


Meski sudah cukup lama diperkenalkan, namun Budidaya ikan lele (Clarias gariepinus) sistem biofloc baru sekitar setahun lalu mulai berkembang  di Bali, khususnya di Tabanan. Berdasarkan pemantauan penulis, di Tabanan saat ini budidaya lele system biofloc telah dikembangkan oleh sejumlah pembudidaya lele di sejumlah kecamatan.

I Made Darma Putra, salah seorang pembudidaya lele system biofloc di Banjar Kelembang, Desa Rejasa, Kecamatan Penebel menuturkan, dibanding budidaya sitem konvesional, budidaya ikan sistem biofloc memiliki sejumlah keunggulan. Di antaranya adalah bisa diterapkan di tempat tertutup, lebih hemat lahan, air dan pakan, serta produktivitasnya tinggi.

Keunggulan lainnya, budidaya ikan system biofloc bisa diterapkan di lahan  sempit dan kolam yang kecil, padat tebar tinggi dan tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu, ikan yang dibudidayakan dengan sistem bioflok dagingnya juga lebih hiegenis dan memiliki rasa lebih enak.

Lantas bagaimana teknik budidaya ikan lele sistem biofloc ? Bagi yang berminiat berikut ini teknik budidayanya yang diterapkan oleh Made Darma Putra yang di banjarnya akrab dipanggil dengan nama Pan Ayu ini.

Persiapan wadah

Sebelum menekuni budidaya lele system biofloc, langkah awal yang perlu disiapkan adalah pembuatan wadah budidaya berupa kolam. Bahan untuk kola mini bisa berupa bak tembok atau terpal. Kolam dibuat berbentuk bundar dengan pintu pengeluaran dibuat di bagian tengah.

Mengingat dalam budidaya system biofloc ini menggunakan padat penebaran tinggi dan suplai oksigen yang cukup, maka perlu juga disiapkan mesin blower yang dihubungkan dengan listrik. Setiap kolam yang berukuran sekitar 3 M3 memerlukan sekitar enam titik aerasi yang terhubung dengan blower.

Bila wadah budidaya sudah siap, berikutnya dibersihkan dan disucihamakan dulu dengan cara mengisinya dengan air setinggi sekitar 80 Cm lalu diamkan selama dua hari. Setelah itu masukkan kaporit 15 – 30 ppm. Sehari kemudian air dibuang dan dikuras.

Berikutnya, masukkan air kembali ke dalam wadah setinggi 30 – 40 Cm. Masukkan juga probiotik (mengandung bakteri bacillus spp) dengan dosis 100 ml/M3 air, molase 100 ml/M3 air dan garam krosok 1 – 3 Kg /M3 air. Tambahkan pupuk ZA 0,2 kg, SP-36 0,1 kg per m3 air dan  fermentasi secukupnya untuk menumbuhkan plankton. Biarkan selama 2 – 4 hari sambil air terus diaerasi.

Bila air sudah bewarna coklat kehijauan, benih lele berkualitas ukuran 7 – 9 Cm ditebarkan dengan kepadatan 1.000 – 1.500 ekor/M3 air. Pan Ayu di Desa Rejasa, menggunakan padat tebar 5.000 ekor untuk wadah kolam berukuran 3 M3

Perawatan

Setelah benih ditebarkan,  selang sehari kemudian benih diberikan pakan berbentuk butiran yang ukurannya kecil disesuaikan dengan bukaan mulut ikan. Pakan diberikan sehari dua  kali dengan dosis 3 persen. Sebelum diberikan, pakan perlu direndam dalam wadah berisi  air yang sudah diberi molase agar pakan mengembang.

Untuk meningkatkan daya serap nutrisi pakan, perlu dilakukan fermentasi pakan selama 2 hari dengan mencampur probiotik 5 cc/kg pakan

Bila floc sudah terbentuk,  pemberian pakan bisa dikurangi dengan cara dipuasakan atau diturunkan 70 persen. Setelah floc cukup bagus, bisa dilakukan oplos pakan yaitu pakan dengan protein 31 persen dicampur dengan pakan 15 persen dengan perbandingan 1 : 1.

Setiap hari sekali usai pemberian pakan, kotoran sisa pakan yang mengendap bisa dibuang dengan cara membuka/memiringkan paralon/pintu pengeluaran air. Air yang dibuang cukup sebanyak 1 persen saja.

Perawatan lainnya, setiap 5 – 7 hari sekali air kolam perlu ditreatmen dengan pemberian probiotik 100 ml/M3 air dan molase 100 ml/M3 air. Usai diberi probiotik dan molase, sehari kemudian air dikapur (diberi dolomite) 50 gram/M3 dan tepung tapioka 250 gram/M3. Setiap 5-7 hari sekali, air kolam juga perlu dinaikkan setinggi 10 Cm sampai batas optimum 80 Cm.

Sebulan setelah penebaran, ikan perlu degrading.  Sebelum digrading ikan dipuasakan. Grading dilakukan saat cuaca baik dan kondisi ikan benar-benar sehat.  Grading dilakukan dengan menggunakan alat berupa ember yang berlubang sisi tepi dan dasarnya

Panen biasanya dilakukan setelah dua bulan pemeliharaan, yakni setelah ukuran ikan mencapai 8 – 10 ekor sekilo atau sesuai dengan permintaan pasar.  Saat panen ini perlu dilakukan sortir, hanya ukuran ikan yang sesuai permintaan pembeli yang dijual. Sedangkan ikan yang berukuran lebih kecil kembali dipelihara. Demikian juga ikan yang berukuran lebih besar bisa dijual dengan harga  tersendiri yang lebih tinggi. (Agus Rochdianto, Penyuluh Perikanan Madya di Tabanan )