Mengenal Budidaya Ikan Sistem Biofloc

Dirjen Budidaya Slamet Subiakto saat mengunjungi Budidaya lele sistem biofloc di Pokdakan Banyu Pinaruh, di Br. Kelembang, Desa Rejasa


Budidaya ikan sistem biofloc saat ini sudah berkembang cukup pesat di sejumlah daerah. Di Kabupaten Tabanan budidaya ikan lele sistem biofloc juga sudah diterapkan oleh sejumlah pembudidaya. Dibanding budidaya sitem konvesional, budidaya ikan sistem biofloc memiliki sejumlah keunggulan. Di antaranya adalah lebih hemat lahan, air dan pakan. Selain itu produktivitasnya juga lebih tinggi.

Keunggulan lainnya, budidaya ikan system biofloc bisa diterapkan di dalam ruangan, di lahan  sempit dan kolam yang kecil, padat tebar tinggi dan tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu, ikan yang dibudidayakan dengan sistem bioflok dagingnya juga lebih hiegenis dan memiliki rasa lebih enak.

Pada awalnya, teknologi buidaya system biofloc diterapkan untuk ikan nila. Namun belakangan ini, sistem biofloc juga banyak diterapkan untuk budidaya ikan lele di berbagai daerah. Selain dikenal dengan nama sistem biofloc, budidaya ikan sistem ini juga ada yang mengenalnya dengan nama  Natural Water System (NWS)

 

Apa itu biofloc ?

Pengertian Biofloc sendiri berasal dari kata bios (kehidupan) dan floc atau flock (gumpalan) yang dalam perikanan diartikan sebagai bahan oprganik hidup yang menyatu dalam gumpalan.   Biofloc merupakan partikel yang teraduk oleh aerasi dan sirkulasi yang terdiri  dari kumpulan organisme autotrof dan heterotrof (berupa bakteri, fitoplankton, fungi, ciliate, nematoda dan detritus) serta bahan tak hidup.

Berdasarkan pengertian tersebut,  penerapan budidaya ikan sistem biofloc konsepnya adalah mengubah senyawa nitrogen anorganik yang bersifat racun (amonia) menjadi bakterial protein. Prosesnya, bahan organic diaduk dan diaerasi agar terlarut dalam air untuk merangsang bakteri heterotrof aerobic menempel pada partikel organik yang selanjutnya menyerap meniral seperti amoniak, fosfat dan nutrient lain dalam air sehingga kualitas air menjadi lebih baik dan bahan organik yang ada bisa didaur ulang menjadi detritus  yang diperkaya

 

Konversi Pakan Rendah

Berdasarkan penelitian dan hasil uji coba di sejumlah daerah, budidaya ikan khususnya ikan lele dalam kolam bentuk persegi dan bundar,   memberikan hasil yang cukup memuaskan. Dengan padat penebaran yang tinggi berkisar 1.000 – 2.500 ekor/m2 memberikan hasil berkisar 100 – 245 Kg/M2. Konversi pakan bervariasi (FCR) berkisar 0,6 – 0,8 . Sedangkan pada budidaya sistem konvesional biasanya 1 – 1,2.

Meski dalam penelitian dan uji coba di sejumlah daerah memberikan hasil yang memuaskan, namun di sejumlah daerah lainnya penerapan budidaya ikan lele dengan sistem biofloc atau NWS ini memberikan hasil yang kurang memuaskan atau tidak sesuai harapan bahkan kegagalan.

Kegagalan tersebut, di antaranya dikarenakan pembudiaya kurang paham terhadap teknologi biofloc, tidak bisa mengendalikan ammonia dan nitrit, penyediaan oksigen yang kurang serta mikroba lokal (bakteri fotosintetik) dan bakteri pembentuk floc ( di antaranya Zooglea ramigera, Escherichia intermedia, Paracolobacterium aerogenoids, Bacillus subtilis, Bacillus cereus,  Flavobacterium, Pseudomonas alcaligenes, Sphaerotillus natans, Tetrad dan Tricoda ) tidak tumbuh.

Untuk mengatasi hal itu, pembudidaya ikan perlu dilatih secara khusus atau magang pada pembudidaya ikan lele yang telah sukses  menerapkan budidaya sistem biofloc. Hal ini perlu dilakukan karena untuk mencapai keberhasilan dalam penerapan teknologi biofloc diperlukan pemahaman, keuletan, kedisiplinan dan ketelitian dari pembudidaya itu sendiri. (Agus Rochdianto, Penyuluh Perikanan Madya di  Dinas Perikanan Tabanan )