Budidaya Lele Dumbo system Aquaphonik



Budidaya lele dumbo (Clarias gariuphinus) memang agak rumit. Karena ikan ini tidak bisa memijah secara alami seperti nila dan ikan mas. Pemijahan hanya bisa dilakukan secara buatan, atau dengan istilah lain kawin suntik. Meski agak rumit, budidaya lele dumbo telah lama berhasil dikembangkan di Indonesia. Budiadaya lele dumbo dilakukan dalam beberapa tahapan.

 

Pendederan I

Pendederan pertama dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan selama 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 5 – 7 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 50.000 ekor larva pada pagi hari; setelah 2 hari, beri 1 – 2 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen benih dilakukan setelah berumur 3 minggu.

 

Pendederan II

Pendederan kedua juga dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalir dengan lebar 40 cm dan tinggi 10 cm; ratakan tanah dasar; tebarkan 5 – 7 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 30.000 ekor benih hasil pendederan I (telah diseleksi); beri 2 – 4 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen benih dilakukan setelah berumur sebulan.

 

Pembesaran

Pembesaran lele dumbo dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan sebuah kolam ukuran 200 m2; perbaiki seluruh bagiannya; tebarkan 4 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 40 – 60 cm dan rendam selama 5 hari; masukan 10.000 ekor benih hasil seleksi dari pendederan III; beri pakan 3 persen setiap hari, 3 kg di awal pemeliharaan dan bertambah terus sesuai dengan berat ikan; alirkan air secara kontinyu; lakukan panen setelah 2 bulan. Sebuah kolam dapat menghasilkan ikan konsumsi ukuran 125 gram sebanyak 400 – 500 kg.

 

Aquaphonik

Untuk mengoptimalkan hasil, kolam lele sangat baik bila dipadukan dengan pemeliharaan tanaman. Tanaman dalam budidaya lele berfungsi sebagai filter air, sehingga kualitas air dalam media pemeliharaan selalu setabil. Metodenya yang dapat dipergunakan adalah : metode penggunaan air langsung, dan metode penggunaan media.

 

Metode Penggunaan Air Langsung

Metode ini menggunakan pipa yang dilubangi untuk menaruh gelas plastik sebagai tempat tanaman. Dalam pipa air kolam mengalir setiap saat dan kembali ke kolam pemeliharaan lele. Dalam gelas plastik yang sudah dilubangi ditaruh beberapa pecahan genteng atau arang kayu dan kapas sebagai tempat menaruh biji tanaman. Tanaman berupa tanaman air seperti selada air, kangkung, pakcoy dan sebagainya. Pemanenan sayur dilakukan dengan akarnya karena kondisi akarnya sudah bersih tanpa tanah. Metode ini juga dapat menggunakan steroform  bekas yang ditaruh di dalam kolam pemeliharaan. Biji tanaman ditaruh di beberapa lubang dalam setiroform yang selalu dalam kondisi basah. Tanaman yang sering dipakai adalah kangkung dan selada air.

 

Metode dengan penggunaan media tanaman

Media tanaman berupa akar pakis atau sekam yang ditaruh dalam pot dan dialirkan air ke dalam pot. Pot diletakkan di pinggiran kolam pemeliharaan lele, dan setiap pot diisi satu kucuran air dan air yang sudah tersaring oleh tanaman langsung kembali ke kolam. Jenis tanaman dapat berupa tanaman yang lebih besar seperti tomat, cabai, mentimun, maupun tanaman menjalar lainnya. Dengan menggunakan tanaman tersebut diharapkan simbiosis mutualisme akan berjalan yaitu memproduksi sayuran dan kondisi media pemeliharaan lele akan terjamin, sehingga pertumbuhan lele akan lebih baik dan penggunaan obat obatan ikan bisa dikurangi.